Super Manuver RusiaRabu, 20 Juni 2007 11:24 WIB
TEMPO Interaktif, Paris:Para pengunjung Paris Air Show 2007 akan disuguhi pertunjukan aerobatik yang belum pernah ditampilkan pesawat jet mana pun sebelumnya. Dalam pameran dirgantara yang berlangsung pada 18-24 Juni di Paris Le Bourget Exhibition Centre itu, Rusia akan memamerkan pesawat jet tempur terbarunya, MIG-29 OVT atau MIG-35. Pesawat Jet tempur multiguna ini menggunakan teknologi terbaru, thrust vectoring tiga dimensi, untuk melakukan aerobatik yang tak bisa dilakukan pesawat jet lainnya. Thrust vectoring adalah kemampuan yang memungkinkan sebuah pesawat mengatur arah semburan dari mesin jetnya untuk memberikan dorongan vertikal ke atas. Sebenarnya, teknologi ini bukan barang baru. Jet Harrier Inggris telah memeloporinya pada 1960-an. Jet F-22 Raptor buatan Lockheed Martin terbaru juga menggunakan thrust vectoring, yang dinamakan Vectoring in Forward Flight atau VIFFing, untuk menggelar manuver yang tak bisa dilakukan pesawat bermesin konvensional. Biar bukan yang pertama, MIG-35 tetap lebih unggul dibanding F-22 Raptor. Bila Raptor bisa mengatur thrust vectoring mesin kembar Pratt & Whitney dalam dua dimensi, MIG-35 bisa memutar semburan jet ke semua arah. Keunggulan MIG 35 yang mencengangkan itu telah didemonstrasikan pada Farnborough International Airshow 2006, yang melampaui F-16 Fighting Falcon, ujung tombak pesawat jet tempur Amerika Serikat. Sejak saat itu, Pavel Vlasov, sang pilot MIG-35, melanglang buana dan memukau penonton dengan manuver cobra strike dan tail slide, yang dilakukan pada kecepatan mendekati nol. Keberhasilan MIG-35, yang melampaui batas hukum gravitasi itu, tak lepas dari peran Klimov, kantor mesin Rusia yang menciptakan OVT, vectoring tiga dimensi. Putaran ke semua arah ini dilakukan dengan bantuan tiga aktuator hidrolik yang dipasang pada interval 120 derajat di sekitar nacelle mesin, yang membelokkan nozzle mesin. Sistem Klimov ini punya nozzle yang bergerak 18 derajat ke segala arah. Para pakar dirgantara menilai pesawat hasil modifikasi MIG-29 ini sebagai tantangan terbuka terhadap pesawat tempur Amerika, F-22 Raptor dan F-35 Lightning II. Apalagi MIG-35 tak cuma mahir bersalto, tapi juga mampu menampilkan misi penyerangan. Namun, sampai sejauh ini, MIG-35 baru sampai pada tahap prototipe satu-satunya. Meski begitu, Vlasov menyatakan pesawat MIG-29 OVT yang dipilotinya itu adalah satu-satunya prototipe di dunia yang siap untuk produksi semua seri. "Pada saat ini, sistem OVT, mekanika nozzle vectoring, serta peranti keras dan lunak komputer telah diuji," kata Vlasov. "Kami amat puas dengan hasilnya dan kami mengkaji pekerjaan selanjutnya untuk meningkatkan daya manuver pesawat."Pesawat buatan Mikoyan ini adalah pengembangan yang lebih matang daripada pesawat MIG-29M, yang boleh dibilang gagal di pasaran. MIG baru ini mengadopsi teknologi fly by wire, pengendalian dilakukan menggunakan komputer sehingga respons lebih cepat. Perubahan vital lainnya adalah radar Phazotron Zhuk-AE active electronically scanned array.Pesawat jet tempur ini juga dilengkapi persenjataan militer standar dan misil canggih Rusia. Dibandingkan dengan pendahulunya, pesawat jet tempur generasi kelima ini punya ketahanan dan fungsi yang lebih baik, sehingga mengurangi ongkos operasi dan memperbaiki kemampuan servis sampai dua setengah kali dibanding MIG 29. Prototipe pesawat yang pertama kalinya dipamerkan kepada publik dalam ajang Aeroindia 2007 ini dilengkapi dengan optronic target tracker, yang identik dengan sistem yang diterapkan pada Su-30 MKI. Untuk menambah ketelitian pada misi serangan udara ke tanah, pesawat ini memiliki modul sasaran elektro optikal, yang bisa menyesuaikan diri dan dipasang di bawah pipa masuk udara. Seabrek perangkat lain juga ditambahkan pada pesawat jet tempur ini, mulai dari radar pemberi peringatan, peringatan peluncur misil elektro-optikal, hingga sensor warning laser. Pesawat jet tempur ini juga punya perlindungan diri integral aktif, seperti jamming dan api suar sebagai bagian dari sistem pertahanan integralnya. Hampir semua sistem yang dipakai pada MIG-35 ini bisa diaplikasikan pada pesawat MIG-29 lewat program upgrading. Teknologi baru lainnya yang digunakan adalah dua mesin RD-33 MK, yang secara digital mengendalikan mesin tanpa asap. Teknologi ini menghapus kelemahan pada mesin MIG-29, yang berasap dan mudah terdeteksi pesawat musuh. Kabarnya, MIG-35 ditawarkan kepada sejumlah konsumen dengan harga sekitar US$ 32 juta atau Rp 289 miliar. Harga itu cuma separuh ongkos pembelian satu unit F-16 dan lima kali lebih murah daripada satu unit Raptor. Tawaran ini jelas sulit ditolak oleh pemerintah negara mana pun.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar