Angkatan Udara RI Mungkin Diperkuat Sukhoi Su-30
DI tengah tekanan banyak pihak untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika, diam-diam pemerintahan Indonesia mulai menengok Rusia untuk menggalang kerja sama. Selain beberapa negara Eropa Timur, rombongan Presiden Megawati Soekarnoputri dijadwalkan ke Rusia 17-27 April ini. Salah satu topik penting adalah membahas kembali minat RI membeli jet tempur canggih multifungsi Sukhoi Su-30KI. Indonesia nyaris membeli 12 pesawat atau satu skadron varian Sukhoi Su-27 Flanker sekitar tahun 1997, namun batal karena krisis moneter dan tekanan politik AS saat itu.
KINI pertemuan-pertemuan untuk menggolkan pengadaan pesawat tempur Sukhoi bernilai 500 juta dollar AS itu terus berlangsung. Para pejabat dari pihak Sukhoi pun sudah datang dan sedang berunding di Jakarta hingga akhir pekan ini.
Rusia bisa dikatakan jadi harapan baru Indonesia, soalnya AS (dan negara Barat) telah mengembargo suku cadang dan pengadaan pesawat militer, terkait dengan krisis Timor Timur serta HAM. Akibat embargo, kesiapan pesawat TNI AU hanya 40 persen sehingga kurang mampu mengawasi wilayah maha luas Indonesia.
Sebenarnya embargo militer AS bukanlah yang pertama. Tahun 1965, setelah peristiwa G30PKI, Uni Soviet (waktu itu) mengembargo suku cadang pesawat tempur MiG, pengebom Tu-16 dan Il-28, juga kapal selam dan kapal perusak yang dibeli dari Soviet.
"Kami harus melihat realita. Sekarang TNI AU kesulitan mendapatkan suku cadang dari Amerika. Itu sebabnya diperlukan pemikiran lain," kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Chappy Hakim seperti dikutip majalah dirgantara Angkasa bulan ini, terkait hari jadi TNI AU, 9 April.
DULU, Indonesia mengutarakan minatnya dalam gelanggang Indonesia Air Show 1996. Rusia kala itu memboyong keluarga pesawat Sukhoi Su-27 Flanker, varian Su-30 dan Su-35 ke Jakarta. Sejumlah penerbang TNI AU berkesempatan menerbangkan Su-30-ditenagai mesin ganda turbofan Lyul'ka AL-31F dengan afterburner sehingga dapat melejitkan pesawat dua kali kecepatan suara-di antaranya Lettu Pnb Agung Sasongkojati dan (almarhum) Lettu Pnb Andis Solichin.
Pilot uji, Igor Votinsev, memberi kesempatan Agung menikmati manuver patukan kobra, manuver yang mencuatkan pamor Su-27 Flanker dan belum tertandingi pesawat tempur Barat sampai saat ini.
"Sangat mudah dan menyenangkan menerbangkannya," komentar Agung terpesona setelah terbang 40 menit bersama Votinsev.
Andis Solichin, yang gugur dalam latihan aerobatik 28 Maret 2002, berpendapat serupa. "Control manouverability-nya bagus sekali. Stick (kemudi)-nya enak. Pandangan dari kokpit terasa luas, baik ke depan, ke samping maupun ke belakang," katanya.
Su-30KI-dirancang Soviet untuk menandingi F-15 Eagle AU AS-memang lebih unggul dari Su-27, pesawat dasarnya. Kokpitnya sudah lebih canggih, dilengkapi layar kristal berwarna. Pulse radar Doppler-nya berkemampuan look-down/shoot-down, mengikuti 10 sasaran udara berbeda pada jarak 100 kilometer (km), serta mengunci sekaligus dua sasaran pada jarak 65 km.
Bedanya dengan F-15 Eagle, Su-27 Flanker yang bentuk sayapnya menyatu dengan badan pesawat belum battle-proven, belum pernah terlibat dalam pertempuran seperti F-15 di Perang Teluk 1991.
Walau begitu, kehebatannya tidak diragukan. Perlengkapan senjatanya antara lain enam peluru kendali Vympel R-27, dikenal juga sebagai AA-10 Alamo-sekelas dengan AIM-7M Sparrow produk AS- dan sering disebut lebih hebat dari Sparrow. Dilengkapi dengan radar aktif, beberapa versi rudal Alamo mampu mengejar musuh hingga 170 km dengan kecepatan Mach 4, empat kali kecepatan suara.
Selain kanon GSh 30 mm 150 putaran, Flanker dipersenjatai peluru kendali udara-ke-udara jarak pendek R-73 atau AA-73 Archer dengan jarak jangkau 40 km, yang merupakan rudal terbaik Rusia. Selain menggotong rudal-rudal tersebut, persenjataan alternatif Su-27 adalah unguided rocket dan 4.000 kilogram bom berbagai jenis. Pada varian lain, dipersenjatai peluru kendali udara-ke-darat sehingga berkemampuan ground attack.
Pesawat juga dilengkapi dengan kursi lontar, Zvesda K-36DM, yang memiliki kemampuan beroperasi pada berbagai kecepatan, mulai dari nol hingga Mach 2. Dari ketinggian nol hingga 82.000 kaki (25.000 meter).
Su-27 Flanker dan varian lainnya, semula eksklusif dioperasikan Uni Soviet. Sebelum revolusi perestroika dan glasnost Gorbachev, Flanker mulai ditawarkan ke dunia luar untuk meraup devisa.
Harganya yang semula hanya 10 persen lebih mahal daripada MiG-29 Fulcrum (sebenarnya harganya setengah dari Su-27), kemudian melambung setelah Soviet runtuh, sekarang berkisar 30-40 juta dollar AS.
Republik Rakyat Cina menjadi operator terbesar pertama di luar negara pecahan Uni Soviet (dengan Rusia dan Ukraina pengguna terbesar). Cina mengoperasikan Su-27 Flanker dengan pesan 24 Sukhoi Su-27 pada 22 Maret 1991, delapan di antaranya diserahkan Agustus 1991 dan ditempatkan di Pulau Hainan. Atas pesanan besar ini, Rusia memberi bonus dua Su-27 dan penawaran program peningkatan kemampuan Su-27 yang diinginkan Cina. Lebih jauh, Rusia memberi lisensi membuat 200 unit Su-27 tahun 1997-2000.
Shenyang Aircraft Company, yang dipercayai memproduksi Sukhoi Su-27 Cina, dalam kurun waktu itu setiap tahun membuat 40 unit Su-27 yang diberi kode Cina J-11. Di luar produksi Cina, Rusia kemudian memperkuat People's Liberation Army Air Force 74 unit lagi. Cina juga ditawari varian Sukhoi Su-33-versi pesawat kapal induk, yakni untuk kapal induk yang dipesan Cina dari Rusia. Selain Cina, tawaran serupa dilayangkan kepada India yang juga membeli kapal induk Admiral Gosrskov.
Untuk mengisi kapal induk, Cina berencana pesan 50 pesawat Sukhoi terdiri dari Su-32FN dan Su-34, menjadikan negeri Tirai Bambu pengguna jet tempur Sukhoi terbesar di kawasan ini.
Selain Cina, Vietnam menjadi negara kedua Asia mengoperasikan Su-27. Negeri Paman Ho membeli 12 Su-27SK/UBK pada tahun 1994 dan disusul oleh pesanan 21 Oktober 1998 sebanyak 24 Sukhoi Su-27.
India mengekor dengan membeli 32 Su-30MKI pada November 1998 untuk Angkatan Udara-nya, 10 di antaranya sudah diserahterimakan tahun 2000. Desember tahun itu, Rusia sepakat memberi lisensi kepada India untuk memproduksi 140 pesawat Sukhoi Su-30 oleh pabrik Hindustan Aeronautics Limited (HAL). Pabrik HAL di Nasik akan mulai memproduksi Su-30 senilai 3,3 milyar dollar AS tahun 2004.
Selain Indonesia, Rusia juga sedang gencar menawarkan varian Su-27 kepada negara tetangga Malaysia, pengguna pesawat MiG-29 dan F-18 Hornet buatan AS.
Menurut data negara pengguna pesawat Sukhoi adalah Polandia, Republik Ceko, Slovakia, Hongaria, Jerman, Irak, Suriah, Yaman, Libia, Aljazair, Iran, Afganistan, Angola, Etiopia, Peru, dan Korea Utara.
SEBELUM tahun 1988, pihak Barat hanya memiliki data minim mengenai Su-27 meski ratusan foto satelit telah dipelajari pihak intelijen. Peluang mengenal lebih dekat pesawat tempur baru Soviet ini terbuka Januari 1987 kala dua pesawat buru sergap Swedia dan Norwegia bertemu di udara dengan Flanker (World Air Power Journal, Volume 15 Winter 1993). September, pesawat patroli P-3 Orion Norwegia dicegat Su-27 dan salah satu baling-balingnya terkena ujung sirip tegak Su-27. Kesempatan ini digunakan P-3 Orion untuk memotret jet tempur terbaru Soviet Uni yang misterius itu.
Tapi, Barat baru menyaksikan sosok utuh Sukhoi Su-27 Flanker diterbangkan oleh Viktor Pugachev dan pesawat latih kursi tandem Su-27UB oleh Eugeny Frolov ketika mendarat di Le Bourget untuk mengambil bagian dalam Paris Air Show 1989-pemunculan perdananya di pentas dunia.
Setahun sebelumnya, tampilan pesawat MiG-29 Fulcrum Soviet di pameran dirgantara Farnborough 1988 di Inggris, sudah mencengangkan Barat. Kehadiran Sukhoi Su-27 di Paris menambah kekaguman Barat terhadap mesin Sukhoi yang mampu terbang nonstop tanpa tangki cadangan dari Moskwa ke Paris!
Menurut Mike Spick dalam bukunya, Modern Fighters (Pegasus Publishing Ltd, 2000) -warga sipil Barat pertama yang pernah duduk di kokpit Flanker-Barat makin kagum atas manuver dynamic deceleration (perlambatan dinamik) patukan Kobra oleh pilot uji Pugachev, yang kemudian melambungkan nama Sukhoi teratas di pentas dunia. Memang tidak ada satu pun pesawat Barat yang mampu meniru manuver mirip gerakan ular kobra mematuk yang disuguhkan Pugachev.
Generasi terbaru Sukhoi Su-37 Super Flanker dengan thrust vectoring-nya mampu membuat manuver somersault atau Kulbit dan Bell.
Kehadiran Su-27 dengan manuver dahsyatnya mencuatkan pabrik Sukhoi pada urutan nomor satu di Uni Soviet yang selama ini hanya dinikmati oleh pabrik MiG. Dari pesawat dasar Su-27 Flanker, pabrik Sukhoi lalu mengembangkan sejumlah varian: Su-30 yang dapat beroperasi di segala macam cuaca dirancang untuk pertempuran udara, menyerang sasaran laut dan darat, dipersenjatai antara lain peluru kendali. Radarnya mampu mendeteksi target pada jarak 100 km dan kendaraan darat pada jarak 250 km.
VARIAN yang paling diunggulkan Sukhoi adalah Su-37 atau kini lebih dikenal sebagai Super Flanker. Debut publiknya adalah pada pameran Farnborough Air Show 1992, namun masih dalam bentuk brosur. Disebutkan, Sukhoi akan memperkenalkan "triplane aerodynamic configuration fighter" atau penggunaan sirip canard dikombinasi dengan sirip tegak konvensional.
Baru 1995, sosok pesawatnya muncul pertama kalinya di depan publik, kemudian dipamerkan pada Farnborough 1996. Prototipe Su-37 ini dilengkapi dengan thrust vectoring engine nozzle (semburan jet yang dapat diarahkan ke atas-bawah, kiri-kanan, atau kombinasi dari semuanya) sehingga memungkinkan pesawat dua mesin turbofan baru AL-37FU dengan afterburner ini meluncur lebih gesit dibanding varian sebelumnya.
Mike Spick mencatat, dibawah kendali pilot-uji Eugeny Frolov, Su-37 mampu melejit Mach 2,5 dan bermanuver mendebarkan jantung "Kulbit". Manuver ini dimulai dengan gerakan seperti patokan kobra tapi meneruskan gerakannya penuh 180 derajat sampai pesawat super-fighter berbobot 34 ton ini jungkir balik membuat huruf penuh "O".
Frolov setelah itu menyuguhkan manuver Bell, manuver yang juga mendebarkan jantung: Super Flanker-nya menanjak tajam tegak lurus lalu seolah diam sesaat di udara kemudian jatuh terbalik ke belakang, lalu melakukan putaran ke kiri (atau ke kanan) keluar dari manuver dan meluncur normal lagi.
Pihak Rusia berkeyakinan, kemampuan dahsyat Su-27 dan varian-variannya ini tetap diperlukan dalam pertempuran udara modern. Setidaknya menurut Frolov, pilot abad mendatang harus membiasakan diri dengan instabilitas ekstrem dari pesawatnya. (Dudi Sudibyo)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar